Penanggulangan Banjir Kota Medan Dibahas Di USU

Medan–USU: Hampir semua anak sungai yang ada dipusat kota masuk kesungai Deli, sehingga terjadi antrian banjir yang mengakibatkan backwater. Oleh karena itu, sungai Deli dan anak sungai alirannya perlu dinormalisasi secara keseluruhan. Pada bagian hulu sungai Deli yang berada diwilayah kota Medan terdapat floodway yang fungsinya mengalirkan debit banjir Q 25 tahun kesungai Percut. Saat ini, mulai dari jalan Raden Saleh belum dinormalisasi, sedang yang sudah dinormalisasi mulai dari jalan Raden saleh sampai kemuara (Belawan). Demikian disampaikan Boas Hutagalung dari Inkindo Sumatera Utara ketika memberikan penjelasan pada acara Forum Group Discussion (FGD) mengenai banjir di kota Medan yang berlangsung pada (24/11/2016) diruang IMT GT BPA USU.

FGD 1Lebih lanjut Boas Hutagalung menjelaskan tentang kondisi kota Medan yang seharusnya tidak mengalami banjir. “Kota Medan dengan elevasi rata–rata diatas 20 m dpl, seharusnya tidak banjir karena kota Medan dilalui 3 buah sungai besar yaitu; sungai Deli, sungai Belawan dan sungai Denai/Percut.” ungkap Boas Hutagalung. Sementara itu Boas juga menjelaskan tentang kondisi banjir di kampus USU bahwa telah terjadi back water di sungai Babura. “Terjadi back water, sungai Babura bermuara ke sungai Deli. Jika sungai Deli penuh maka sungai Babura tidak dapat masuk kesungai Deli. Selanjutnya air sungai Babura akan masuk kekampus USU” demikian ungkap Boas Hutagalung.

FGD 2Hadir dalam acara ini Rektor USU Prof Dr Runtung SH MHum, Wakil Walikota Medan Ir Akhyar Nasution MSi dan dari Teknik Sipil USU Prof Dr ING Johannes Tarigan dan Ir Makmur Ginting MSc. Dalam sambutannya Wakil Walikota Ir Akhyar Nasution mengatakan bahwa banjir dikota Medan dapat digolongkan kepada 2 Jenis yaitu banjir Makro dan Banjir Mikro. “Banjir yang diakibatkan oleh kondisi drainase lokal atau banjir mikro sering terjadi ±20 kali pertahun dibanyak lokasi. Penyebab utamanya adalah tidak memadainya kapasitas pembuangan air hujan dari jalan melalui saluran ke saluran utama dan sungai. 

FGD 4Sedangkan Banjir makro yang diakibatkan oleh sungai meluap pernah terjadi dikota Medan pada tahun 1956, 1990, 2002 dan terakhir pada tahun 2011 terjadi 2 kali per tiga bulan dan dalam skala yang lebih kecil setiap tahunnya” Ungkap Wakil Walikota Medan Ir Akhyar yang sekaligus membuka secara resmi kegiatan FGD tersebut. Wakil Walikota Medan Ir Akhyar lebih lanjut juga menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang menjadi tantangan dalam penanganan Banjir / Genangan di kota Medan seperti ; Keterbatasan kemampuan keuangan Pemerintah Kota Medan dalam memelihara drainase agar dapat berfungsi Optimal, kemudian masih diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas database dan pemetaan saluran drainase. “Sistem pengendalian banjir kota Medan sangat tergantung dari kehandalan sistem sungai, namun normalisasi masih sangat terbatas sehingga belum memadai” ungkap Wakil Walikota Medan.

FGD 3Dalam kesempatan itu, Rektor USU Prof Runtung menyampaikan rasa terimaksihnya karena telah mempercayakan USU sebagai tempat pelaksasanaan FGD Penanganan Banjir dikota Medan. “Ucapan terimakasih kami kepada pihak Inkindo karena telah memfasilitasi suatu kegiatan yang begitu penting yaitu membahas penanggulangan banjir, yang belakangan ini menjadi langganan kota Medan dan salah satunya adalah kampus USU. Kita disini juga menghadirkan pakar–pakar dari USU tentang masalah terkait penanganan banjir. Oleh karena itu, semoga dari semua pemikiran yang akan kita tuangkan dalam FGD ini, kiranya dapat menjadi suatu rekomendasi yang bermanfaat bagi penanganan banjir di kota Medan” Demikian ungkap Rektor USU Prof Runtung. (Humas/Andi).